Monday, December 10, 2012

DAHLAN ISKAN VS DPR: Tak Ikuti Rapat Komisi VII, Dahlan Dinilai Lecehkan DPR

DAHLAN ISKAN VS DPR: Tak Ikuti Rapat Komisi VII, Dahlan Dinilai Lecehkan DPR


JAKARTA–Ada saja ulah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang membuat panas para anggota DPR. Kali ini ia benar-benar membuat marah dan terkesan melecehkan khususnya kepada Komisi VII DPR karena pergi meninggalkan ruang rapat sebelum rapat dibuka.
Dahlan sebelumnya memang dijadwalkan rapat kerja dengan Komisi VII di ruang rapat Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2012) pada pukul 10.00 untuk membicarakan mengenai PLN. Dia bahkan sempat datang ke ruangan Komisi VII sekitar pukul 09.45 WIB. Tapi, selang berapa lama sekitar pukul 10.05 WIB, ia hanya menitipkan absen dan pulang duluan.
“Saya kesini hanya mau pamit karena jam 10.38 ada rapat terbatas dengan Bapak Presiden,” kata Dahlan sambil bergegas pergi.
Kepergian Dahlan sempat terlihat oleh Wakil Ketua Komisi VII Effendy Simbolon yang langsung datang dan langsung menghampiri Dahlan di mobilnya. Sempat terjadi perbincangan antara keduanya. “Masuk dululah pak, biar rapat dibuka dulu,” kata Effendy ke Dahlan.
Lalu Dahlan tetap bersikukuh untuk pergi. Hal itu membuat geram Effendy, yang juga politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. “Kan nggak etis rapat belum dimulai langsung pergi,” ujar Effendy yang terlihat mulai kesal.
Melihat tak ada niat baik Dahlan, Effendy mengancam untuk menghubungi Presiden karena Dahlan tidak menghormati rapat dengan Komisi VII. “Nggak baik kalau nggak hadir. Kita kan mengundang rapat. Kita bisa telepon Presiden lho,” ujarnya.
“Ya silakan. Saya hadir sudah,” ucap Dahlan menanggapi pernyataan Effendy.
Akhirnya Dahlan pun pergi ke Istana Presiden. Usai kejadian tersebut Effendy menilai bahwa Dahlan perlu dibawa ke psikiater.
Kegeraman politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut karena ada rapat yang lebih penting dimana Dahlan harus memberi penjelasan lanjutan tentang kerugian yang dialami Perusahaan Listrik Negara saat menjadi direktur utama.
“Masa begini cara pemerintahan Pak SBY. Saya berpulang lagi kepada pak Presiden, mempunyai pembantu yang saya nggak tahu ya mengistilahkannya. Verifikasi ini kan diperlukan. Saya syok dan saya nggak tahu ya kalau negeri Indonesia dibangun dengan konstitusi kemudian ada pembantu-pembantu presiden tipikal gini harus dibawa ke psikiater,” kata Effendy.
Effendy tidak habis pikir dengan tingkah Dahlan. Datang ke ruangan Komisi VII pada 09.45 WIB. Duduk sebentar, kemudian meninggalkan ruangan dengan alasan dipanggil Presiden untuk rapat pada 10.38 WIB.
“Ini sudah keterlalu. Tindakannya sudah melecehkan. Kita ini lembaga negara, jangan main-main loh,” ujarnya.
Etika yang baik, kata Effendy, Dahlan harusnya menunggu untuk dibuka rapat terlebih dahulu. Bukan lantas langsung pergi. “Loh itu sampaikan dalam rapat dong. Kita ini ada etikanya. Apapun alasannya monggo disampaikan dalam rapat, dalam forum,” katanya.
Dengan nada geram, Effendy menilai Dahlan agak panik. Bahkan, dia menyindir Dahlan bakal ditendang dari kabinet. “Memang sangat panik dia dari gesturnya. Mungkin harus begini ya biar Presidennya bersih-bersihkan kabinetnya lah. Ini kacau lho negeri ini kalau begitu, tidak patuhnya kepada aturan,” katanya.

No comments:

Post a Comment